Selasa, 24 Januari 2012

Kehidupan Masyarakat Multikultural di Universitas Negeri Semarang





Indonesia merupakan salah satu negara dari ratusan negara di dunia yang dikategorikan sebagai negara dengan kemajemukan dalam masyarakatnya. Di Indonesia sendiri  masyarakat multikultral atau masyarakat majemuk diperkenalkan oleh J.S Furnivall pada tahun 1967, dan mengartikannya sebagai suatu masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain dalam satu kesatuan politik.
Masyarakat Multikultural oleh Clifford Geertz diartikan sebagai masyarakat yang terbagi ke dalam sub-sub sistem yang kurang lebih berdiri sendiri dan masing-masing sub sistem terikat oleh ikatan primordial. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari beranekaragam latar belakang kebudayaan, suku, agama, ras, golongan, kelompok, dan sebagainya yang dipersatukan dalam suatu bangsa dan dipaksa untuk selalu mengesampingkan perbedaan. Keadaan demikian dapat memaksa warga masyarakat untuk tetap berada dalam satu kesatuan. Proses terbentuknya masyarakat multikultural tidaklah serta merta begitu saja. Banyak faktor yang menyebabkan suatu masyarakat dikatakan multikultural.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
1.   1.    Latar Belakang Historis
Faktor ini menyebabkan adanya keanekaragaman ras di Indonesia dengan ciri budayanya sendiri-sendiri.
2.   2.   Keadaan Geografis
Keadaan geografis itu merupakan faktor yang mengakibatkan keanekaragaman dalam suku bangsa. Kondisi geografis yang terdiri dari beribu pulau yang dipisahkan oleh laut, gunung, jurang, dan lembah membuat penduduknya terisolir dari kelompok lain, sehingga mereka membentuk kesatuan dan komunitas suku bangsa yang dipersatukan oleh ikatan emosional, bahasa, budaya, dan kepercayaan yang khas.
3.   3.   Letak Indonesia yang Strategis
Hal ini telah memberikan warna keberagaman dalam hal agama dan kebudayaan.
4.   4.   Kondisi iklim yang Berbeda
Kondisi Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau memperlihatkan kondisi yang berbeda pula dalam iklim dan cuaca. Iklim yang berbeda ini membuat masyarakatnya mempunyai mata pencaharian yang bervariasi pula.
Faktor-faktor diatas menjadikan suatu negara atau masyarakat memiliki dua atau lebih elemen yang membentuk kemajemukan.
Ciri-ciri masyarakat multikultural :
  1. Mempunyai struktur budaya lebih dari satu
  2. Nilai-nilai dasar yang merupakan kesepakatan bersama sulit berkembang.
  3. Sering terjadi konflik-konflik sosial yang berbau SARA.
  4. Struktur sosialnya lebih bersifat nonkomplementer.
  5. Proses integrasi yg terjadi berlangsung secara lambat.
  6. Sering terjadi dominasi ekonomi, politik, dan sosial budaya.
Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara sukubangsa atau kebudayaan sukubangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan mengenai multikulturalisme mau tidak mau akan mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktivitas.
Mengamati sebuah lembaga sosial yang anggotanya memiliki banyak perbedaan tentunya kita juga akan sedikit banyak membicarakan tentang multikultural. Unnes sebagai sebuah lembaga pendidikan tentu saja di dalamnya terdapat banyak aspek multikultural yang dapat kita lihat.


       Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam lembaga sosial, anggota-anggotanya akan memiliki banyak sekali perbedaan entah dari aspek agama, suku, bahasa, atau yang lainnya. Sama halnya di sebuah lembaga pendidikan, kita ambil contoh di Universitas Negeri Semarang misalnya. Sebagai Universitas Negeri, Universitas Negeri Semarang atau lebih akrab kita sebut Unnes, adalah aebuah lembaga pendidikan betrtingkat nasional. Atmosfer kebudayaan di Unnes sangat beraneka ragam. Mahasiswa yang menjadi peserta didik di sini berasal dari berbagai daerah di pulau Jawa, bahkan dari luar pulau Jawa pun banyak yang belajar disini. Ini menjadi sebuah indikasi bahwa di Unnes baik mahasiswa, dosen, serta penduduk pribumi di sekitar Unnes setiap hari mereka hidup bermasyarakat dengan suasana yang multikultural.
Melihat dari aspek bahasa yang paling dasar. Masing-masing aerah di pulau Jawa memiliki logat bahasa yang sangat beragam. Di Jawa Tengah bagian tengah sampai barat laut misalnya, mulai dari Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Brebes, dan Tegal, mempunyai logat ngapak yang khas. Bahkan logat ngapak di Brebes dan Tegal dibandingkan dengan daerah Karesidenan Banyumas memiliki perbedaan perbendaharaan kata. Sedangkan di daerah sekitar Boyolali, Solo, Yogyakarta, memiliki logat bahasa jawa yang halus. Untuk Karesidenan Kedu yaitu, Temanggagung, Wonosobo, Magelang, Purworejo, dan Kebumen, mempunyai logat yang khas, karena merupakan percampuran antara logat ngapak dan logat asli daerah Yogyakarta dan Semarang. Untuk daerah Kudus, Pati, Rembang, Jepara, juga memiliki logat daerah mereka sendiri. Dan daerah Pantura juga memiliki logat yang berbeda. Menjadi sangat menarik ketika dalam pergaulan saja bahasa yang digunakan sudah berbeda dan beragam.
Kemudian dari latar belakang keluarga, jelas saja dari ribuan mahasiswa di Unnes berasal dari keluarga yang tentunya memiliki status sosial dan tingkatkan dalam krlas sosial yang berbeda-beda juga. Itu menambah keberagaman dalam pola kehidupan bermasyarakat di Unnes sendiri. Ditambah lagi dari aspek agama yang tentunya masing-masing mahasiswa memiliki agama dan dan kepercayaan mereka masing-masing yang sudah mereka sudah diyakini lama oleh mereka dari daerah asal mereka masing-masing.
Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwasanya didalam masyarakat yang multikultural sangat mudah terjadi adanya konflik, dan sulit untuk menumbuhkan integrasi. Namun di Unnes sendiri, kita dapat lihat sendiri nampaknya para mahasiswa dapat bersosialisai, berinteraksi, dan bermasyarakat, seakan-akan tidak ada perbedaan sama sekali diantara mereka. Integrasi diantara para mahasiswa ini tentu saja bukan hal yang tumbuh tanpa disadari, integrasi tidak tercipta secara instant diantara mereka. Dari ribuan mahasiswa yang ada di Unnes, mereka memiliki satu persamaan yang mendasar, yakni berkuliah guna mendapatkan gelar sarjana. Meskipun dalam pergaulan dan berinteraksi terkadang masih sering kita jumpai sifat-sifat primordial dan etnosentris dari mereka. Kemudian karena kebanyakan para mahasiswa berasal dari luar daerah, dari luar Kabupaten dan Kota Semarang, mereka menganggap lingkungan dimana mereka tinggal saat ini adalah lingkungan baru bagi mereka, sehingga mereka akan menjaga sikap serta perilaku mereka. Sedikit demi sedikit mereka akan belajar tentang kebudayaan setempat, norma, etika, bahasa, makanan, dan lain sebagainya. Sama hal-nya , karena mereka bersosialisai serta bermasyarakat dengan orang-orang yang baru maka mereka juga belajar untuk saling mengenal dan menghargai satu sama lainnya.
Mahasiswa hanyalah sebuah sebutan bagi mereka karena mereka yang disebut mahasiswa adalah mereka yang sedang menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Tapi diluar itu mereka tetaplah seorang individu yang memiliki perbedaan satu sama lainya. Kita akan lihat di Unnes sendiri, dimana seorang mahasiswa sebagai individu, dalm bergaul mereka akan mencari mahasiswa lain yang dirasa memiliki persamaan, entah persamaan daerah, hobby kegemaran dan lain sebagainya. Di Unnes banyak sekali kelompok yang terbentuk dari persamaan itu semua seperti ikatan mahasiswa yang berlatar belakang daerah yang sama contohnya, IMP (Ikatan Mahasiswa Pati), Imbara (Ikatan Mahasiswa Banjarnegara), Dugem (Duta Gethuk Magelang), Gema Satria (Gerombolan Mahasiswa Banyumas Satria) dan lain sebagainya. Lalu ada pula kelompok yang terbentuk karena adanya persamaan hobby dan kegemaran seperti Jaico (Japan Independent Community), Cosmos (Comunitas Sos-Ant Motor Unnes), Uvo (Unnes Vespa Owner), Usc (Unnes Slanker Club). Serta Rohis (Kerohanian Islam), UKK (Unit Kerohanian Kristen) yang terbentuk karena adanya persamaan agama diantara mereka. Terbentuknya banyak kelompok-kelompok tadi memang malah akan membuat mereka para mahasiswa semakin sadar bahwa diantara mereka banyak sekali perbedaan, dan konflik antar kelompok sangat potensial terjadi sewaktu-waktu. Cross-cutting affiliations yang demikian terkadang akan sangat mudah menimbulkan suatu konflik antar kelompok. Namun sebuah konflik akan segera diredusir oleh bertemunya loyalitas agama misalnya atau daerah, dan lain sebagainya dari para anggota yang terlibat di dalam pertentangan tersebut. Oleh karena itu cross-cutting affiliations senantiasa menghasilkan cross-cutting loyalities itulah maka sampai pada tingkat tertentu kehidupan masayrakat di Unnes juga akan terintegrasi di atas dasar tumbuhnya perbedaan-perbedaan yang bersifat silang-menyilang (cross-cuting). Hal ini akan membuat mereka paham bahwa seberapa besar perbedaan diantara mereka, juga akan ada persamaan diantara mereka.
Kemudian, menjadi seorang mahasiswa tentunya mereka sudah melewati proses yang panjang, yang pasti mereka sudah pernah mengenyam pendidikan selama sembilan tahun atau bahkan lebih. Semala proses itu pula mereka, sedikit banyak mereka sudah paham tentang multikulturalisme, dimana telah diajarkan di jenjang pendidikan sebelumnya tentang toleransi beragama, menghargai dan menghormati budaya orang lain, dan lain sebagainya. Hal itu pula-lah yang menjadikan kondisi sosial di Unnes tidak begitu sulit untuk menciptakan suatu integrasi sosial diantara mereka. Terlebih lagi ketika mereka berkuliah-pun mereka masih bisa belajar tentang multikulturalisme melalui mata kuliah pendidikan pancasila misalnya, atau kewarganegaraan, yang merupakan mata kuliah umum di Unnes. Bersama-sama dengan tumbuhnya konsensus nasional mengenai nilai-nilai pancasila, tidak akan sulit membentuk sebuah integrasi di lingkungan Unnes, tanpa khawatir menimbulkan konflik di tengah-tengah kehidupan sosial para mahasiswa.



D

engan kondisi masyarakat yang multikultural sebagai lembaga pendidikan, Unnes bisa menciptakan kondisi masyarakat yang dapat terintegrasi dengan segala perbedaan yang ada. Karena para mahasiswa di Unnes sebagian besar berasal dari luar daerah Semarang, mereka menganggap lingkungan dimana mereka tinggal saat ini adalah lingkungan baru bagi mereka, sehingga mereka akan menjaga sikap serta perilaku mereka. Sedikit demi sedikit mereka akan belajar tentang kebudayaan setempat, norma, etika, bahasa, makanan, dan lain sebagainya. Sama hal-nya , karena mereka bersosialisai serta bermasyarakat dengan orang-orang yang baru maka mereka juga belajar untuk saling mengenal dan menghargai satu sama lainnya. Dengan kondisi masyarakat yang multikultural, dengan berbagai macam perbedaan yang yang ada nyatanya integrasi tetap dapat tercipta. Integrasi dapat tercipta karena adanya cross-cutting loyalities yang lahir dari cross-cutting affiliations. Dengan saling menghargai perbedaan dan menyadari bahwa diantara mereka masih ada persamaan-persamaan, sehingga tidak mustahil sebuah integrasi akan tercipta. Sebagai seorang mahasiswa dengan latar belakang pendidikan mereka sebelum menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi, sedikit banyak mereka telah paham tentang multikultural. Dan bersama-sama dengan tumbuhnya konsensus nasional mengenai nilai-nilai pancasila, tidak akan sulit membentuk sebuah integrasi di lingkungan Unnes.

0 komentar:

Poskan Komentar